salah satu topik yang si bahas dalam Al- Qur'an adalah mengenai perempuan. bahkan Al-Quran memberi perhatian khusus terhadap perempuan. yang mana dapat di buktikan dengan adanya surat An- Nisa yang berarti perempuan. selain dalam surat tersebut, ada hal-hal yang berkaitan dengan perempuan selain dalam surat An-Nisa juga di terangkan dalam surat-surat lainnya. dan tidak ada satupun ayat yang me claim bahwa perempuan adalah manusia kelas dua setelah laki-kaki dg di ciptakannya dari tulang rusuk laki-laki.
islam dengan semua ajarannya menempatkan perempuan sesuai dengan kodratnya. islam mengatur perempuan dengan memperhatikan kondisi alam, biologis juga konstruksi sosial budayaannya. yang mana ini sering menjadi perdebatan tentang persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. selain karna faktor pemahaman agama yang tak sama, juga karna kondisi sosial masyarakat yang berbeda membuat perdebatan tersebut semakin sengit dan tidak ada akhirnya.
di negara kita, khususnya di desa desa, posisi perempuan sebenarnya sudah cukup ideal. kenapa ? karna banyak sekarang perempuan yg bisa melakukan profesinya dengan baik. meskipun mereka belum mengetahui akan kesetaraan gender dan kajian feminisme. mereka mampu menempatkan dirinya dengan baik dalam keluarga. bahkan ada wanita yg bisa melakukan yg tidak pada umumnya. jika dia petani, maka perempuan harus membantu suaminya ke ladang meskipun hanya mengantarkan makanan dan melihat perkembangan sawahnya. tp kenyataannya banyak perempuan yg ikut serta bekerja di sawah sesuai dengan kemampuannya. dan mereka semuanya bekerja tanpa meninggalkan kodratnya.
Menyebut nama Kiai Idham Chalid, ingatan kita tentu akan melayang pada gonjang-ganjing NU pada tahun 1982-1984, yang melahirkan sekaligus menghadapkan dua kubu tokoh-tokoh nahdliyyin: kubu Cipete dan kubu Situbondo. Konflik internal NU itu juga yang kemudian membuat Idham dianggap kontroversial. Bahkan ia dijuluki “politikus gabus”, karena dianggap tidak memiliki pendirian. Tak banyak yang mau melihat sisi lain kebijakan-kebijakan Kiai Idham, yang sebenarnya sangat NU dan sangat Sunni. Sebagai politisi besar NU yang lihai, Idham memang memainkan dua lakon berbeda, sebagai politisi dan ulama. Sebagai politisi, ia melakukan gerakan strategis, dan bila perlu kompromistis. Sebagai ulama, ia bersikap fleksibel, tapi tetap tidak terlepas dari jalur Islam dan tradisi yang diembannya. Semua itu ia lakukan sebagai bagian dari upaya kerasnya menjaga stabilitas kalangan bawah nahdliyyin, yang menjadi tanggung jawabnya, agar selamat fisik dan spiritual melewati masa-masa gawat tran...
Komentar
Posting Komentar