bismillah wal alhamdulillah...
sejak sering berada di lingkungan organisasi kini ku sering mendengarkan dan berbicara dengan teman2 mulai dari yg bermanfaat sampai tidak bermanfaat hehe..... tapi menurut ku tetap saja bermanfaat karna yg bernilai adalah kebersamaannya. sempat malam ini aku berfikir tentang logika. apa itu logika ? apakah logika selalu di kedepankan ketika berfikir? apakah anda yakin dg berlogika akan mendapatkan suatu kebenaran? Na...yuk kita belajar dari hadist.
masih ingat dengan hadist ini kawan, "as sholatu imaadu ddin faman aqomaha faqod aqoomaddin faman tarookaha faqod hadaamaddin" yang katanya sholat itu sebagai tiang agama. bagimana kita bisa berlogika dengan pernytaan ini ?? maka, dengan mencari asbaabun nuzul dan asbaabul furudnya. kita bisa tau, mari kita hubungkan dengan hadist yg menjelaskan bahwa islam di bangun dengan 5 fondasi. di ataranya ada syahadat, sholat, zakat, puasa dan haji. maka ketika di hubungkan dengan sholat adalah tiang agama. maka,
1. dalam sholat ada bacaan syahadat
2. dalam sholat, kata sholat dalam bahasa adalah berdoa. dan dalam sholat semua bacaan mengandung doa.
3. dalam zakat, menyucikan jiwa/ membersihkan jiwa. dalam sholat juga seperti itu. dg sholat, mengingat Allah hati dan jiwa kita akan merasa tenang.
4. dalam puasa, puasa itu ngeker yaitu menjaga dari hal-hal yg membatalkn puasa. sama dalam sholat juga seperti itu. dalam sholat kita menjaga dari hal-hal yg membatlkan puasa.
5. dan haji, haji itu berkunjung ke baitullah . sama sholat juga seperti itu madep kiblat.
nah....dengan pernyataan seperti itu, maka sholat sbagai tiang agama itu menurut saya bisa di logika dan di terima oleh akal.
karna berlogika itu proses mencari kebenaran dengan memperhatikan asbaabun nuzul dan asbaabul furud tertentu, atau dari salah satu yg mewakilinya.
Menyebut nama Kiai Idham Chalid, ingatan kita tentu akan melayang pada gonjang-ganjing NU pada tahun 1982-1984, yang melahirkan sekaligus menghadapkan dua kubu tokoh-tokoh nahdliyyin: kubu Cipete dan kubu Situbondo. Konflik internal NU itu juga yang kemudian membuat Idham dianggap kontroversial. Bahkan ia dijuluki “politikus gabus”, karena dianggap tidak memiliki pendirian. Tak banyak yang mau melihat sisi lain kebijakan-kebijakan Kiai Idham, yang sebenarnya sangat NU dan sangat Sunni. Sebagai politisi besar NU yang lihai, Idham memang memainkan dua lakon berbeda, sebagai politisi dan ulama. Sebagai politisi, ia melakukan gerakan strategis, dan bila perlu kompromistis. Sebagai ulama, ia bersikap fleksibel, tapi tetap tidak terlepas dari jalur Islam dan tradisi yang diembannya. Semua itu ia lakukan sebagai bagian dari upaya kerasnya menjaga stabilitas kalangan bawah nahdliyyin, yang menjadi tanggung jawabnya, agar selamat fisik dan spiritual melewati masa-masa gawat tran...
Komentar
Posting Komentar